Friday, December 26, 2008

Tagged Under: ,

Benjolan di Payudara Belum Tentu Kanker




Perempuan paling percaya diri pun pasti akan panik dan gelisah jika menemukan benjolan di payudara. Pikiran pertama yang muncul adalah berbagai hal mengerikan tentang kanker. Reaksi panik tersebut wajar dialami, meski tidak seharusnya demikian. Pasalnya, benjolan pada payudara belum tentu kanker dan kalau pun ternyata benar kanker, dunia kedokteran sudah mampu mengatasinya.

Menurut dr Melissa S Luwia, MHA, dari Yayasan Kanker Indonesia, sekitar 80 persen benjolan yang ditemukan di payudara justru bukan kanker ganas. "Benjolan itu bisa merupakan kumpulan lemak, bisa kista atau kumpulan cairan, dan tumor jinak," katanya. Yang paling penting jangan menunda untuk segera pergi ke dokter ahli kanker.

Hanya lewat perabaan saja sulit mengetahui jenis benjolan tersebut. Bahkan seorang dokter ahli kanker sekali pun perlu melakukan pemeriksaan, antara alin dengan biopsi, untuk memastikan apakah sel-sel itu ganas atau tidak. Kendati demikian, pemeriksaan secara dini sangat berarti karena jika terbukti kanker dan benjolannya masih kecil, ada kemungkinan untuk mengambil sebagian saja dari payudara. "Makin kecil bagian yang diambil, rekonstruksinya lebih mudah," ujar Melissa.

Cara paling mudah dan murah untuk mendeteksi dini kanker payudara adalah dengan memeriksa payudara sendiri (Sadari). Pemeriksaan dilakukan pada hari ke-3 hingga ke-5 seusai haid. Pemeriksaan setelah haid karena, sebelum haid, kelenjar-kelenjar membengkak sehingga kalau diraba sering terasa seperti ada benjolan.

Dalam posisi berdiri atau berbaring, kita bisa meraba dengan tiga jari (telunjuk, tengah, dan jari manis) secara lembut ke payudara. Jika menemukan benjolan atau kerutan, bentuk payudara tidak simetris, puting tertarik ke dalam, kulit berubah seperti kulit jeruk, pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, peradangan atau keluar cairan dari puting, perlu diwaspadai dan segera periksakan ke dokter.

Di atas usia 35 tahun, perempuan dianjurkan menjalani mamografi atau pemeriksaan payudara dengan sinar X. Mamografi diulang tiap tahun setelah usia 40 tahun sampai menopause.

Sumber: kompas.com

Share

3 comments:

tyas said...

udah nggak pernah mammografi lagi nih... harus ya..? ngeri juga kalo baca2 artikel ttg kanker payudara..

LDs said...

suka nggak bisa bedain.. mana benjolan yang biasa, mana yg harus dicurigai.. memang harus rajin mammografi..

jetty said...

nice article.. thanks for sharing.. keep posting, sist..